Wahana Info
  • NEWS
    • PERISTIWA
    • DAERAH
    • REGIONAL
    • NASIONAL
    • DUNIA
  • POLITIK
  • HUKUM
  • BUDAYA
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • RUANG KREASI
  • OPINI
No Result
View All Result
  • NEWS
    • PERISTIWA
    • DAERAH
    • REGIONAL
    • NASIONAL
    • DUNIA
  • POLITIK
  • HUKUM
  • BUDAYA
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • RUANG KREASI
  • OPINI
No Result
View All Result
Wahana Info
  • NEWS
  • PERISTIWA
  • DAERAH
  • REGIONAL
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • POLITIK
  • HUKUM
  • BUDAYA
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • RUANG KREASI
  • OPINI

PT. FIA Beroperasi Puluhan Tahun diduga Tanpa Memiliki HGU dan Abaikan Kewajiban Pajak

by Wahanainfo.com
24 Oktober 2025 | 20:24 WIB
in Hukum
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT

WAHANAINFO.COM || TAPTENG – PT. Fajar Indah Anindya, kembali mendapat sorotan tajam sejumlah media, karena diduga kuat tidak memiliki Hak Guna Usaha (HGU) atas ribuan hektare lahan yang dikelolanya.

Perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan sawit tersebut, telah beroperasi lebih dari 20 (dua puluh) tahun, di Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Sumatera Utara.
Dugaan ini bukan sekadar isu belaka. Beberapa kali pertemuan rapat baik ditingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten bahkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung DPRD Tapteng pada Bulan Juni 2025, terungkap bahwa PT FIA, hanya mengantongi Izin Usaha Perkebunan (IUP) tanpa HGU sebagaimana diwajibkan undang-undang.
Ironisnya, hingga Oktober 2025, status hukum lahan tersebut tak kunjung diperbaiki, sementara aktivitas operasional tetap berjalan seperti biasa.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan PT FIA mengklaim sekitar 1.850 hektare lahan, yang merupakan lahan milik Ahli Waris Sutan Mulia Margampo Siregar (Alm) berdasarkan surat pengakuan tiga kepala kampung tahun 1962
Penerima Kuasa dari Ahli Waris Sutan Mulia Margampo Siregar, Rahmat Putera Siregar mengungkapkan bahwa PT. FIA melalui Direktur Utama, Hartono Utama hanya membeli lahan seluas 122 Ha pada tahun 2005.
Setelah pembelian lahan seluas 122 Ha pada tahun 2005. tersebut, sederet permasalahan muncul yang ditimbulkan oleh PT. FIA.
“Almarhum orang tua kami pernah melaporkan Camat Sibabangun pada saat itu atas nama Hikmal Batubara ke Polsek Pinangsori dan oleh Penyidik status hukumnya dalam Proses sidik, namun kasus itu dipetieskan hingga saat ini,” ungkap Rahmad Siregar, Jum’at (24/10/2025).
Rahmad melanjutkan, dirinya bersama seluruh ahli waris Sutan Mulia Margampo Siregar, berencana akan menempuh jalur hukum dan mengungkap segala dugaan praktek mafia tanah yang dilakukan oleh PT. FIA atas lahan milik keluarganya.
“Semua bukti – bukti autentik sudah kami pegang, dalam waktu dekat kami akan segera menepuh jalur hukum atas semua kasus yang telah dilakukan oleh oknum – oknum baik dari PT. FIA maupun oknum pejabat yang terlibat didalamnya. Puluhan tahun hak kami dikebiri dan ditiadakan oleh mereka,” tegas Rahmad Siregar.
Rahmad kemudian menambahkan bahwa PT. FIA tidak memiliki izin lokasi di Desa Lumut Maju bahkan di Kecamatan Lumut.
“Izin Lokasi yang diberikan oleh Pemkab Tapteng kepada PT FIA ada di Desa Parjalihotan sekarang Desa Parjalihotan Baru, Kecamatan Pinangsori, Desa Pulo Pakkat, Desa Pulo Pakkat II dan Desa Tebing Tinggi di Kecamatan Sibabangun, sesuai dengan Surat Izin Lokasi Nomor: IL/01/PGT/2005 dan Surat Keputusan Bupati Tapteng nomor: 037/Dakopin/2007 tanggal 30 Januari 2007 tentang Izin Usaha Budidaya Perkebunan PT. FIA,” bebernya.
Sementara itu, Joseph Adi Makayasa Hulu, seorang Advokat dan Corporate Legal, putera Tapanuli Tengah, menanggapi masalah ini.
Jika benar, praktik ini tidak hanya menyalahi prinsip tata kelola lahan, tetapi juga berpotensi melanggar ketentuan agraria bahkan kuat dugaan adanya praktek mafia tanah selama 20 tahun PT. FIA bercokol di Desa Lumut Maju.
Menurut Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, setiap pelaku usaha perkebunan wajib memiliki hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, dalam hal ini HGU yang diterbitkan oleh BPN.
Tanpa HGU, perusahaan dapat dijerat Pasal 108 UU Perkebunan, dengan ancaman pidana penjara hingga 5 tahun dan denda maksimal Rp10 miliar.
“Permasalahan PT. FIA sejak 2005 yang tidak ditindaklanjuti hingga kini jelas bentuk pembiaran. Pemerintah daerah seolah menutup mata,” tegas Joseph, melalui sambungan telepon selulernya.
Masalah tak berhenti di situ. Karena tak memiliki HGU, PT FIA juga diduga tidak memiliki Nomor Objek Pajak (NOP) yang sah untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor perkebunan.
Dengan luas lahan mencapai 1.850 hektare, potensi kerugian negara diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah per tahun.
Tindakan ini dapat dikategorikan sebagai penghindaran pajak (tax evasion), sebagaimana diatur dalam Pasal 39 ayat (1) huruf c UU Nomor 6 Tahun 1983 jo. UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP), yang mengancam pelaku dengan pidana penjara maksimal 6 tahun dan denda hingga 4 kali lipat dari pajak terutang.
“Sudah saatnya pemerintah daerah bersikap. Jika perusahaan dibiarkan beroperasi tanpa izin lengkap, apa arti hukum di negeri ini ?” ujar Josep.
Kekecewaan warga terhadap lemahnya pengawasan pemerintah daerah terhadap PT. FIA, semakin dalam.
Salah seorang warga Desa Lumut Maju yang enggan disebutkan namanya, meminta BPN, Dinas Perkebunan dan Badan Pajak Daerah dipanggil guna membuka data legalitas PT FIA secara transparan.
“Kalau masyarakat kecil telat bayar pajak langsung ditindak, tapi perusahaan besar bertahun-tahun tanpa HGU dibiarkan. Ini tidak adil,” kesal warga.
Pengabaian terhadap aturan ini, jika terus dibiarkan, bukan hanya merugikan negara, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di sektor strategis daerah.
Hingga berita ini diterbitkan, Pihak PT FIA belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi yang dilakukan awak media melalui pesan dan panggilan telepon. (Sorakhmat )

Berita Terbaru

Daerah

Tingkatkan Keaktifan Peserta Pertahankan UHC, Pemkab Simalungun Gelar Forum Komunikasi

18 September 2026 | 17:25 WIB
Daerah

Ziarah ke Makam Raja Siantar Sang Nauwaluh Damanik: Menutup Rangkaian Ziarah Raja Marpitu dalam Hari Jadi ke-193 Daerah Simalungun

18 September 2026 | 17:21 WIB
Daerah

Hadiri Rakon Program MBG, Wakil Bupati Simalungun Tegaskan Pengawasan dan Kolaborasi

18 September 2026 | 17:16 WIB
Daerah

Hari Jadi ke-193 Daerah Simalungun: Momentum Perkuat Generasi Kini dengan Warisan Masa Lampau

18 September 2026 | 17:11 WIB
Daerah

Pemkab Simalungun Tegaskan Komitmen Perkuat Peran PKK Sebagai Motor Penggerak Kesejahteraan Masyarakat

18 September 2026 | 17:06 WIB
Daerah

Hadiri RUPS Bank Sumut, Bupati Simalungun Tegaskan Dukungan Penguatan Modal untuk Dorong Ekonomi Daerah

18 September 2026 | 17:01 WIB
Daerah

BPK-RI Perwakilan Provsu Gelar Entry Meeting Pemeriksaan LKPD Kabupaten Simalungun TA 2025

18 September 2026 | 16:55 WIB
Daerah

BPK-RI Perwakilan Provsu Gelar Entry Meeting Pemeriksaan LKPD Kabupaten Simalungun TA 2025

18 September 2026 | 16:55 WIB
Daerah

Peringati Hari Jadi Ke-193, Pemkab Simalungun Gelar Ziarah ke Makam Raja Marpitu

18 September 2026 | 16:50 WIB
Daerah

Groundbreaking Jembatan di Nagori Bosar Galugur: Dorong Akses dan Perekonomian Masyarakat

18 September 2026 | 16:45 WIB
Daerah

Persiapkan Nagori Percontohan Tingkat Provinsi, TP PKK Kabupaten Simalungun Lakukan Pembinaan dan Pendampingan

18 September 2026 | 16:40 WIB
Daerah

Hadiri Wisuda Santri Ponpes Modern Al-Kautsar, Bupati Simalungun Dorong Lahirnya Generasi Masa Depan Cerdas Secara Intelektual

18 September 2026 | 16:33 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Policy
  • Terms

© 2026 Wahanainfo.com

rotasi barak berita hari ini danau toba fons nuntiorum infamissimus

No Result
View All Result
  • NEWS
    • PERISTIWA
    • DAERAH
    • REGIONAL
    • NASIONAL
    • DUNIA
  • POLITIK
  • HUKUM
  • BUDAYA
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • RUANG KREASI
  • OPINI

© 2026 Wahanainfo.com

rotasi barak berita hari ini danau toba fons nuntiorum infamissimus