Wahana Info
  • NEWS
    • PERISTIWA
    • DAERAH
    • REGIONAL
    • NASIONAL
    • DUNIA
  • POLITIK
  • HUKUM
  • BUDAYA
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • RUANG KREASI
  • OPINI
No Result
View All Result
  • NEWS
    • PERISTIWA
    • DAERAH
    • REGIONAL
    • NASIONAL
    • DUNIA
  • POLITIK
  • HUKUM
  • BUDAYA
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • RUANG KREASI
  • OPINI
No Result
View All Result
Wahana Info
  • NEWS
  • PERISTIWA
  • DAERAH
  • REGIONAL
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • POLITIK
  • HUKUM
  • BUDAYA
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • RUANG KREASI
  • OPINI
Para dosen BINUS Bandung dan mahasiswa, foto bersama dengan Plt Lurah Kelurahan Gumuruh Hj. Irna Winartin, S.Ps., M.Si serta para ibu-ibu kelompok PKK.

Para dosen BINUS Bandung dan mahasiswa, foto bersama dengan Plt Lurah Kelurahan Gumuruh Hj. Irna Winartin, S.Ps., M.Si serta para ibu-ibu kelompok PKK.

Kreativitas Ibu Rumah Tangga Mengubah Limbah Plastik Menjadi Produk Komersil

by wahanainfo.com
6 Desember 2025 | 22:46 WIB
in Inovasi, Pendidikan
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT

BANDUNG- Dari tumpukan tutup botol plastik di sudut rumah hingga menjadi aksesori bernilai jual, perjalanan itu kini sedang dirintis di Kelurahan Gumuruh, Kota Bandung.

Bukan oleh pabrik besar, melainkan oleh ibu-ibu PKK yang semangat dan antusias, didampingi para dosen BINUS Bandung yang datang membawa perpaduan pengetahuan desain, kewirausahaan, dan kepedulian lingkungan.

Di tengah isu sampah plastik yang kian mengkhawatirkan, inisiatif ini menawarkan cerita lain: bahwa limbah bisa diolah menjadi peluang ekonomi sekaligus sarana edukasi publik.

Di balik program pengabdian kepada masyarakat ini berdiri tim lintas disiplin dari BINUS Bandung. Andriano Simarmata, S.DS., M.DS, Dosen Desain Interior, memimpin sebagai ketua tim. Ia bekerja bersama Friska Amalia, S.DS., M.DS, dan Iftika Suliastuti, S.DS., M.DS, sesama Dosen dari latar belakang Desain, serta Imanda Dea Sabiella dari bidang Creative Preneurship serta beberapa dosen dan mahasiswa lainnya yang terlibat.

Dari pihak kelurahan, dukungan datang dari Hj. Irna Winartin, S.Ps., M.Si, Sekretaris Kecamatan Batununggal selaku Plt Lurah Gumuruh saat itu, dan Harry Azhadin, SE, selaku Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan Kelurahan Gumuruh. Mereka berkolaborasi dengan kurang lebih 30 orang anggota Kelompok PKK dari seluruh RT RW di Kelurahan Gumuruh, yang menjadi motor utama pelaksanaan di lapangan.

Di wilayah ini, para ibu yang sehari-hari akrab dengan urusan rumah tangga dan lingkungan sekitar diajak naik peran: bukan hanya sebagai pengelola rumah tangga masing-masing, tetapi sebagai pelaku kreatif dalam rantai ekonomi sirkular.

Program tersebut mengusung tema panjang yang mencerminkan ambisinya: “Implementasi Eco-Branding Berbasis Komunitas untuk Mengupayakan Pengolahan Limbah Plastik yang Sustainable Menjadi Produk Komersil di Kelurahan Gumuruh Bandung”.

Di atas kertas, tema ini terdengar teknis. Namun di lapangan, ia diterjemahkan menjadi rangkaian kegiatan yang sangat membumi: mengajak ibu-ibu PKK mengolah limbah tutup botol plastik menjadi produk kreatif, sambil mempelajari cara membangun merek dan mempromosikan produk secara digital dengan pendekatan eco-branding.

Kegiatannya bertahap dan berlangsung sepanjang akhir tahun. Tahap pertama program dilaksanakan pada Jumat 4 Juli 2025, di lingkungan Kelurahan Gumuruh. Sejak pagi, ruang pertemuan kelurahan dipadati ibu-ibu PKK yang datang dengan wajah antusias dan penuh rasa ingin tahu. Mereka mengikuti rangkaian seminar yang menjadi pintu masuk ke dunia baru: dunia di mana sampah plastik bukan lagi akhir dari sebuah benda, melainkan awal dari sebuah produk.

Sesi pembuka menghadirkan seminar bertajuk “Branding untuk Eco-Friendly Product dan Strategi Media Sosial” yang disampaikan oleh Imanda Dea Sabiella, S.E., MBA. Di sini, peserta diperkenalkan pada gagasan bahwa produk ramah lingkungan perlu dikemas dengan cerita yang kuat.

Tidak cukup hanya menempelkan label ramah lingkungan; pelaku usaha harus mampu menjelaskan mengapa produk mereka peduli lingkungan, bagaimana proses pembuatannya, dan apa manfaatnya bagi konsumen. Media sosial diperkenalkan sebagai panggung utama untuk menyampaikan cerita tersebut, bukan sekadar tempat berbagi foto dan status singkat.

Seminar kedua menambah dimensi baru. Mengusung tema “Strategi Membangun Merk Ramah Lingkungan”. Sesi ini diisi oleh dua narasumber dari Newhun, sebuah inisiatif kreatif pengolahan limbah plastik: Yahya Rijalul Jihad dan Dian Pratiwi Willyarti, S.Ds., M.Sn. Keduanya datang tidak hanya membawa teori, tetapi juga pengalaman nyata mengembangkan produk berbasis limbah plastik hingga dikenal luas.

Kepada ibu-ibu PKK, mereka menunjukkan bahwa bisnis yang berangkat dari kepedulian lingkungan bukan utopia; ia benar-benar bisa diwujudkan melalui konsistensi, kreativitas, dan kemampuan membaca pasar.

Setelah mendapatkan bekal konsep, peserta diajak turun langsung ke praktik melalui dua sesi workshop: memilah limbah dan merancang konten branding untuk media sosial. Dalam workshop pilah-pilih limbah plastik, ibu-ibu PKK bekerja dengan bahan yang sangat dekat dengan keseharian mereka: tutup botol plastik yang sebelumnya sudah dikumpulkan bersama.

Aktivitas memilah yang biasanya tampak sepele, di tangan para fasilitator, berubah menjadi sesi belajar yang menyenangkan. Peserta diajak memahami jenis-jenis plastik, potensi pengolahannya, dan bagaimana kebiasaan sederhana di rumah bisa berdampak pada pengurangan timbunan sampah. Satu per satu, tutup botol yang semula tampak tak berharga disortir dan dikelompokkan, seakan memperlihatkan bahwa limbah pun bisa memiliki masa depan.

Workshop berikutnya memindahkan suasana ke ranah digital. Dengan format permainan kreatif, peserta diminta mencoba merancang konten media sosial untuk produk olahan limbah plastik yang kelak mereka buat. Mereka mendiskusikan bagaimana memotret produk dengan menarik, menuliskan caption yang menyentuh, dan menonjolkan nilai ramah lingkungan sebagai kekuatan utama merek.

Di ruangan itu, telepon genggam yang sehari-hari digunakan untuk berkomunikasi, perlahan berubah fungsi menjadi alat kerja pemasaran. Bagi banyak peserta, ini pengalaman pertama menghubungkan aktivitas kreatif mereka dengan strategi promosi yang terencana.

Jika tahap pertama adalah pengenalan dan pematangan konsep dilakukan di halaman Kelurahan, maka tahap kedua yang digelar pada Jumat, 31 Juli 2025, di Kampus BINUS yang berada di kawasan Paskal 23 Bandung, menjadi “dapur kreatif” tempat ide-ide itu diuji dan diwujudkan.

Ibu-ibu PKK yang sebelumnya belajar di kelurahan kini memasuki lingkungan kampus, disambut dosen-dosen dari latar belakang desain interior, desain produk, desain komunikasi visual, dan creativepreneurship, serta sejumlah mahasiswa yang bertindak sebagai pendamping. Perpindahan ruang ini memberi pengalaman baru: masyarakat diajak masuk ke ruang akademik bukan sebagai objek, tetapi sebagai mitra belajar.

Di sela-sela sambutan, kehadiran Hj. Irna Winartin, S.Ps., M.Si sebagai Plt. Lurah Gumuruh dan dukungan dari Harry Azhadin, SE sebagai Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan Kelurahan Gumuruh menegaskan bahwa pemerintah setempat berdiri di belakang upaya pemberdayaan ini.

Di kampus, para peserta dibagi menjadi lima kelompok besar, masing-masing terdiri atas enam sampai delapan orang. Setiap kelompok didampingi satu hingga dua dosen dan beberapa mahasiswa. Mereka menerima tugas yang jelas: melakukan brainstorming dan menyusun sketsa desain produk aksesoris dari limbah tutup botol.

Bagi sebagian peserta, menggambar bukan hal yang biasa. Namun dengan bimbingan dan suasana yang cair, mereka mulai berani menuangkan ide dalam bentuk garis dan warna. Dari meja ke meja, lahir beragam gagasan produk. Ada rancangan tatakan gelas dengan motif geometris dari potongan tutup botol, ada pin bros dengan komposisi warna cerah, gelang dan kalung yang memanfaatkan warna asli dari tutup sebagai elemen dekoratif, aksesoris untuk kacamata yang memadukan fungsi dan estetika, gantungan kunci yang ringkas namun atraktif, anting dengan bentuk unik, serta produk-produk lain yang seluruhnya bertumpu pada limbah tutup botol plastik.

Hasil sketsa itu memperlihatkan satu hal: kreativitas tidak mengenal latar belakang. Ibu-ibu PKK yang sehari-hari bergelut dengan urusan dapur dan keluarga menunjukkan bahwa mereka juga mampu berbicara dalam bahasa desain. Produk yang dirancang tampak cantik dan unik, menawarkan karakter visual yang berbeda dari produk massal di pasaran. Dengan sentuhan konsep eco-branding, produk-produk ini dinilai layak dipasarkan sebagai aksesori yang tidak hanya indah, tetapi juga membawa pesan kepedulian terhadap lingkungan.

Dari setiap kelompok, sedikitnya enam desain dikembangkan, lalu dipresentasikan di hadapan peserta lain dan tim dosen. Proses ini sekaligus menjadi latihan komunikasi: menjelaskan ide produk, menceritakan asal bahan baku, dan meyakinkan pendengar bahwa aksesoris berbahan limbah plastik bisa berdiri sejajar dengan produk komersial lainnya.

Setelah sesi presentasi, dilakukan kurasi untuk memilih dua desain terbaik dari tiap kelompok yang akan diprioritaskan menjadi prototipe dan kelak diproduksi dalam jumlah lebih besar.

Tahap berikutnya adalah demonstrasi produksi prototipe. Di sini, para dosen memperlihatkan bagaimana sketsa di atas kertas dapat diolah menjadi produk nyata dengan memanfaatkan peralatan sederhana yang bisa ditemukan di rumah seperti setrika, gunting dan cetakan kue kering.

Teknik pemotongan, penyusunan, dan penyatuan potongan plastik dijelaskan satu per satu, disertai penjelasan mengenai keamanan penggunaan, kerapian finishing, dan cara menjaga konsistensi bentuk saat produksi dilakukan dalam jumlah banyak.

Pendekatan ini sengaja dipilih agar para peserta merasa yakin bahwa mereka bisa melanjutkan produksi tanpa ketergantungan pada mesin khusus. Sebuah pesan penting pun tersirat: kemandirian produksi adalah kunci keberlanjutan usaha.

Program tidak berhenti di akhir workshop. Justru setelah dua tahap besar itulah para peserta memasuki fase yang paling menantang: produksi mandiri yang dilakukan disepanjang bulan September dan Oktober. Setiap kelompok diberi waktu sekitar enam minggu untuk mengolah limbah tutup botol menjadi produk sesuai desain yang telah disepakati dan dikurasi.

Mereka diminta memproduksi dua hingga tiga jenis produk, masing-masing dengan target jumlah antara 50 sampai 100 buah. Target ini bukan sekadar angka, melainkan latihan konkret untuk menerapkan prinsip manajemen produksi: bagaimana mengatur alur kerja, membagi peran, menjaga kualitas, dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

Di tengah kesibukan rumah tangga, ibu-ibu PKK menata ulang waktu mereka agar proses produksi tetap berjalan. Selama proses produksi, peserta juga diminta mendokumentasikan perjalanan mereka dalam bentuk foto dan video. Dokumentasi ini disiapkan sebagai bahan konten untuk kampanye digital marketing di media sosial.

Melalui gambar-gambar proses dan produk jadi, disertai narasi yang menyentuh tentang upaya mengurangi limbah dan memberdayakan komunitas, diharapkan tumbuh kedekatan emosional antara calon konsumen dengan produk yang mereka beli.

Eco-branding dalam konteks ini tidak hanya berbicara tentang logo dan kemasan, tetapi tentang cerita yang menyertai setiap objek yang dijual. Setiap tatakan gelas, pin bros, gelang, kalung, aksesoris kacamata, gantungan kunci, anting, dan produk lainnya membawa kisah tentang tangan-tangan yang mengolah, komunitas yang bergerak, dan lingkungan yang dijaga.

Dukungan kelurahan terhadap kegiatan yang melibatkan ibu-ibu PKK menunjukkan bahwa isu lingkungan dan pemberdayaan ekonomi warga dapat disinergikan dalam satu gerakan bersama. Di sisi lain, kehadiran dosen-dosen BINUS Bandung menjadikan program ini contoh konkret bagaimana kampus dapat turun tangan menjawab persoalan lingkungan dan sosial di tingkat lokal, bukan hanya melalui riset dan wacana, tetapi melalui aksi pendampingan yang terstruktur.

Seiring berjalannya program, respon positif mulai bermunculan. Para peserta mengaku mendapat cara pandang baru terhadap limbah plastik. Tutup botol yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari sampah rumah tangga kini dipandang sebagai aset yang bisa diolah menjadi produk yang cantik dan unik.

Pemerintah kelurahan melihat potensi ekonomi kreatif yang bisa berkembang dari karya-karya ibu-ibu PKK ini. Pihak kampus menilai program ini sebagai model kolaborasi yang perlu diperluas ke komunitas lain, mengingat manfaatnya terasa langsung: lingkungan lebih terjaga, warga lebih terampil, dan peluang usaha baru terbuka.

Antusiasme itu tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Menyikapi sambutan hangat dan harapan agar program ini tidak berhenti di satu rangkaian kegiatan, tim dosen BINUS Bandung bersama jajaran Kelurahan Gumuruh mulai menyiapkan rencana lanjutan.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mendapat banyak dukungan untuk dikembangkan dan diteruskan pada awal tahun depan, dengan fokus pada penguatan produksi, pendampingan pemasaran, dan perluasan jaringan penjualan.

Dari Kelurahan Gumuruh, sebuah pesan sederhana pun lahir: bahwa perubahan bisa dimulai dari sesuatu yang kecil—dari tutup botol plastik yang selama ini dianggap tak berarti—ketika ilmu, kreativitas, dan semangat komunitas bertemu dalam satu gerakan. (*)

Berita Terbaru

Ketua PD GPA Asahan Soroti Dugaan Lemahnya Pengawasan Pemberantasan Narkoba di Kabupaten Asahan

20 Juni 2026 | 21:03 WIB
Daerah

Pasar Dwikora Siantar Diamuk Si Jago Merah, 311 Kios Ludes Terbakar

19 Juni 2026 | 18:35 WIB
Daerah

Pemko Pematangsiantar Perbaiki Jalan Berlubang di Simpang Jalan S Parman dan Jalan Sangnaualuh

19 Juni 2026 | 16:35 WIB
Daerah

Wali Kota Wesly Tinjau Lokasi Kebakaran Pasar Dwikora

18 Juni 2026 | 12:48 WIB
Daerah

Peletakan Batu Pertama Pembangunan GBI Jalan Danau Tondano, Wali Kota Wesly Beri Bantuan Pribadi Semen 500 Sak

17 Juni 2026 | 13:15 WIB
Head Line

Barang Bukti BBM Bersubsidi & Satu Unit Mobil Diduga Hilang, Polres Simalungun Bungkam

16 Juni 2026 | 21:42 WIB
Head Line

Polres Simalungun Bekuk 69 Pelaku Curat, Curas & Cunranmor

16 Juni 2026 | 12:27 WIB
Daerah

Ketua TP PKK Ny Liswati Hadiri Rapat Koordinasi Persiapan Pelepasan Murid PAUD-SAB se-Kota Pematangsiantar

16 Juni 2026 | 12:26 WIB
Head Line

Polres Simalungun Ungkap Kasus Perdagangan Trenggiling, Tanduk Rusa & Beruang Madu

16 Juni 2026 | 09:42 WIB

Motor Dibawa Kabur Teman, Warga Bekasi Lapor ke Polsek Cikarang Utara

16 Juni 2026 | 09:28 WIB
Daerah

Polres Simalungun Ungkap 69 Tersangka Kasus 3C Semester I 2026, Puluhan Kasus Kejahatan Konvensional Berhasil Diungkap

15 Juni 2026 | 22:12 WIB
Daerah

Pemko Pematangsiantar dan BKPRMI Sumut Rapat Teknis FASI XIII, Bangga Kota Pematangsiantar Tuan Rumah

15 Juni 2026 | 11:59 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Policy
  • Terms

© 2026 Wahanainfo.com

rotasi barak berita hari ini danau toba sumber berita terkini

No Result
View All Result
  • NEWS
    • PERISTIWA
    • DAERAH
    • REGIONAL
    • NASIONAL
    • DUNIA
  • POLITIK
  • HUKUM
  • BUDAYA
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • RUANG KREASI
  • OPINI

© 2026 Wahanainfo.com

rotasi barak berita hari ini danau toba sumber berita terkini