Wahanainfo | Jakarta, Spirit persatuan nasional yang disampaikan oleh Sufmi Dasco Ahmad dalam forum peluncuran buku karya Syahganda Nainggolan dinilai sebagai pesan politik yang relevan dalam menjaga kohesi sosial dan memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila di tengah dinamika politik nasional dan global. Jum’at 6 Maret 2026
Peluncuran buku berjudul “Politik, Keadilan Sosial dan Kemandirian Bangsa” yang diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung pada 5 Maret 2026 menjadi ruang dialog akademik yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat, mulai dari akademisi, aktivis, hingga pejabat negara. Forum tersebut juga menghadirkan diskursus mengenai demokrasi, arah pembangunan nasional, serta strategi menghadapi ketidakpastian global.
Dalam pidato penutupnya, Dasco menekankan pentingnya persatuan masyarakat sipil sebagai fondasi bagi keberhasilan agenda pembangunan nasional. Ia mengajak publik untuk memberikan ruang bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan berbagai program strategis negara. Menurutnya, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar butuh berapa lama untuk pemerintah bisa membuktikan, tetapi bagaimana masyarakat dapat bersatu agar agenda pembangunan dapat dijalankan secara optimal.
Menanggapi hal tersebut, Ratu Nisya Yulianti, Aktivis Perempuan sekaligus Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Politik, menilai bahwa pesan yang disampaikan Dasco harus dipahami sebagai bentuk komunikasi politik yang menekankan konsolidasi nasional.
Menurutnya, narasi yang disampaikan tidak dimaksudkan sebagai retorika yang menggebu-gebu dalam konteks negatif, melainkan sebagai upaya menguatkan nilai kebangsaan yang tercermin dalam Sila Ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia.
“Spirit yang disampaikan Pak Dasco menurut saya adalah bentuk pengingat bahwa bangsa ini memerlukan kohesi sosial yang kuat. Dalam perspektif komunikasi politik, pesan tersebut merupakan bentuk nation-building discourse yang menekankan pentingnya solidaritas kolektif untuk menjaga stabilitas nasional,” ujar Ratu Nisya Yulianti dalam keterangannya.
Ia menilai bahwa dalam situasi global yang penuh ketidakpastian mulai dari dinamika geopolitik hingga tantangan ekonomi dunia persatuan nasional menjadi prasyarat penting bagi keberhasilan kebijakan pemerintah.
Ratu Nisya juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda dan kelompok intelektual kampus, untuk membuka ruang dialog yang konstruktif serta memberikan kesempatan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan agenda strategis nasional.
Menurutnya, program pembangunan nasional yang dirumuskan dalam konsep Asta Cita merupakan visi besar yang membutuhkan dukungan sosial dan stabilitas politik agar dapat diimplementasikan secara efektif.
“Pemuda sebagai agen perubahan harus memiliki kedewasaan politik untuk melihat kebijakan secara objektif. Kritik tetap diperlukan dalam demokrasi, namun harus disertai dengan semangat menjaga persatuan bangsa,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, ia menilai bahwa forum akademik seperti peluncuran buku di ITB menjadi contoh penting bagaimana ruang diskusi intelektual dapat mempertemukan berbagai gagasan politik secara terbuka namun tetap dalam koridor kebangsaan.
Dari perspektif akademik komunikasi politik, fenomena ini dapat dianalisis melalui beberapa pendekatan teoritis.
Pertama, teori komunikasi integratif dalam politik yang dikemukakan oleh Karl Deutsch menjelaskan bahwa stabilitas suatu negara sangat bergantung pada kemampuan elite politik dan masyarakat dalam membangun jaringan komunikasi yang memperkuat integrasi sosial. Pesan persatuan yang disampaikan oleh Dasco dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi integratif yang bertujuan memperkuat kohesi nasional.
Kedua, dalam kerangka teori legitimasi politik dari David Easton, dukungan masyarakat terhadap pemerintah merupakan bagian dari proses political support yang memungkinkan sistem politik bekerja secara stabil. Ketika masyarakat memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjalankan programnya, legitimasi tersebut akan memperkuat efektivitas kebijakan publik.
Ketiga, dalam perspektif agenda setting theory dari Maxwell McCombs dan Donald Shaw, elite politik memiliki peran dalam membentuk fokus perhatian publik terhadap isu-isu strategis. Dengan menekankan pentingnya persatuan dan dukungan terhadap agenda pembangunan nasional, pesan politik tersebut berupaya mengarahkan diskursus publik kepada stabilitas dan pembangunan bangsa.
Lebih lanjut, Ratu Nisya menegaskan bahwa menjaga persatuan nasional merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa, termasuk akademisi, aktivis, dan generasi muda.
Menurutnya, komunikasi politik yang menekankan solidaritas kebangsaan merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
“Pesan persatuan yang disampaikan Pak Dasco relevan dengan semangat Pancasila. Ini bukan sekadar retorika politik, tetapi pengingat bahwa pembangunan nasional hanya dapat berjalan apabila seluruh elemen bangsa tidak terjebak dalam polarisasi yang berlebihan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan dukungan terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan peran Sufmi Dasco Ahmad dalam menjaga stabilitas politik nasional melalui komunikasi yang menekankan persatuan dan solidaritas kebangsaan.
Lap. Ran

