
WAHANAINFO.COM || TAPTENG, MASUNDUNG – Hingga 24 hari pascabencana alam yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) pada Selasa (25/11/2025) lalu, Desa Sialogo, Kecamatan Lumut, masih berada dalam kondisi terisolasi.
Terisolirnya desa tersebut disebabkan oleh rusaknya sejumlah titik jembatan penghubung dari Desa Masundung menuju Desa Sialogo. Akibatnya, akses utama yang biasa digunakan masyarakat untuk keluar masuk desa hingga kini belum dapat dilalui kendaraan.
Kondisi ini berdampak serius terhadap aktivitas dan kehidupan warga. Selain terhambatnya mobilitas masyarakat, distribusi logistik, bahan pangan, serta layanan kesehatan dan Pendidikan juga menjadi sangat terbatas.
Rusaknya beberapa titik infrabstruktur jembatan tersebut, warga masyarakat terpaksa berjalan kaki melewati medan sulit dan jalur darurat yang berisiko, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepala Desa Sialogo Yareti Waruwu yang turut didampingi Sekdes Desa Masundung Junisman Zai mengatakan, hingga saat ini desanya masih terisolasi akibat putusnya beberapa titik jembatan penghubung pasca banjir bandang.
“Sejak terjadinya bencana alam yang menimbulkan korban jiwa tersebut, sampai hari ini belum ada perbaikan, sehingga akses utama masyarakat masih terganggu,” ujar Kepala Desa Sialogo saat ditemui di lokasi, Jumat (19/12/2025).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut sangat berdampak pada aktivitas warga, terutama dalam hal distribusi logistik, pelayanan kesehatan dan pendidikan. Menurutnya, jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan memperparah kesulitan hidup masyarakat di wilayah tersebut.
“Kami sangat berharap perhatian dan langkah cepat dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah dan instansi terkait, untuk segera membangun kembali jembatan yang rusak. Ini menyangkut keselamatan dan kehidupan masyarakat kami,” jelasnya.
Bukan itu saja lanjut Yareti, akibat bencana itu juga, sejumlah tiang listrik tumbang, ada yang tertimbun material longsor serta hanyut dibawa arus banjir.
“Hingga 24 hari peristiwa itu telah terjadi, Desa Sialogo masih gelap gulita di malam hari,” pungkas kepala Desa, yang mengaku bahwa, segala kesulitan dan kerusakan sejumlah infranstruktur di wilayahnya, telah dilaporkan kepada pihak kecamatan dan kabupaten, agar segera diperbaiki.
Sementara itu, sejumlah warga Desa Sialogo mengaku kesulitan mendapatkan bahan kebutuhan pokok. Bahkan, untuk membawa hasil pertanian maupun keperluan mendesak seperti berobat ke fasilitas kesehatan, mereka harus menempuh perjalanan yang lebih jauh dan berbahaya.
“Kami sangat berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan yang rusak. Sudah hampir satu bulan kami terisolasi dan kondisi ini sangat menyulitkan,” ujar salah seorang warga.
Terpisah, Koordinator Wilayah (Korwil) Pantai Barat Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) Sumateta Utara, Christiono Andries, yang didampingi oleh Ketua Investigasi JPKP Kota Sibolga Bonaparte sirait, mengaku prihatin atas kesulitan yang dihadapi warga masyarakat di Desa Sialogo dan Desa Masundung saat ini.
Ia mengusulkan kepada Pemerintah, agar perbaikan infranstruktur jembatan penghubung antara Desa Masundung dan Desa Sialogo, menjadi salah satu prioritas utama.
Hendaknya, perbaikan infranstruktur jembatan di wilayah ini, menjadi prioritas utama dalam percepatan proses pemulihan pascabencana.
“Jangankan warga masyarakat, Tim Relawan JPKP Sumut saja, merasa kesulitan untuk memobilisasi bantuan, di Wilayah tersebut,” ungkap Christiono, usai menyerahkan bantuan JPKP Sumut kepada korban bencana, di Desa Masundung dan Desa Sialogo.
Hingga berita ini diterbitkan, warga masih menunggu perhatian dan langkah konkret dari pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk segera melakukan perbaikan infrastruktur, khususnya jembatan penghubung yang menjadi urat nadi perekonomian dan aktivitas masyarakat Desa Sialogo.
Masyarakat berharap agar status darurat pascabencana tidak hanya sebatas pendataan, tetapi juga diikuti dengan percepatan pembangunan dan pemulihan akses demi kelangsungan hidup warga di wilayah terdampak. (Sorakhmat)
No Result
View All Result