Wahana Info
  • NEWS
    • PERISTIWA
    • DAERAH
    • REGIONAL
    • NASIONAL
    • DUNIA
  • POLITIK
  • HUKUM
  • BUDAYA
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • RUANG KREASI
  • OPINI
No Result
View All Result
  • NEWS
    • PERISTIWA
    • DAERAH
    • REGIONAL
    • NASIONAL
    • DUNIA
  • POLITIK
  • HUKUM
  • BUDAYA
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • RUANG KREASI
  • OPINI
No Result
View All Result
Wahana Info
  • NEWS
  • PERISTIWA
  • DAERAH
  • REGIONAL
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • POLITIK
  • HUKUM
  • BUDAYA
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • RUANG KREASI
  • OPINI
Foto ilustrasi

Foto ilustrasi

SELINGKUH

by wahanainfo.com
11 September 2022 | 10:13 WIB
in Opini
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT

Beberapa tahun yang lalu pernah saya baca cerita ini: di sebuah dusun di Jawa, pada suatu sore seorang peladang muncul di balaidesa dengan menjinjing dua butir kepala manusia yang berlumuran darah: kepala isterinya dan kepala seorang pemuda yang tak dikenal.

Oleh: Goenawan Mohamad

Kepada lurah yang terkejut dan ngeri si peladang bercerita, dialah yang menyembelih. Ketika ia berjalan pulang dari memeriksa air sawah, ia lihat di balik sebuah semak tubuh isterinya telanjang terbaring di rumput, tertidur lelah dalam pelukan seorang anak muda.

Naik darah, si peladang membacokkan sabitnya ke leher pasangan itu berganti-ganti …

Saya lupa detailnya; saya juga lupa cerita selanjutnya. Tapi tak akan terlalu sukar merekonstruksi kejadian itu dengan imajinasi. Si peladang bukan lelaki pertama yang membunuh pasangannya yang tak setia. Para arkeolog menemukan prasasti dari sekitar 4000 tahun yang lalu, di mana tertulis Raja Hammurabi dari Babilonia memaklumkan undang-undang yang membenarkan, bahkan mengharuskan, pembunuhan isteri yang selingkuh .“Jika isteri seorang pria merdeka tertangkap sedang tidur dengan seorang pria lain, keduanya harus diikat dan ditenggelamkan…”

Goenawan Muhamad (Foto whiteboard jurnal)

Sejarah berkembang dan berangsur-angsur, atau lebih tepat beringsut-ingsut, codex Hammurabi ditinggalkan manusia. Dengan catatan: tak semuanya. Posisi kaum lelaki yang sering disebut “patriarki” berlanjut. Juga pengertian “keadilan” sebagai pembalasan setimpal.

Prinsip ini pada dasarnya bersifat kalkulatif seperti dagang di pasar: satu mata yang ditusuk dalam konflik harus dibayar dengan satu mata orang yang menusuk.

‘Lex talionis’ ini bertahan setelah Hammurabi mati dan dewa yang disembah di Babilonia tak diakui lagi. Gaungnya bahkan tetap terdengar ketika Yahweh memaklumkan hukum Perjanjian Lama.

Baru sekian abad kemudian, “keadilan” berubah.

Di tahun-tahun awal abad Masehi, di sebuah bukit Palestina, Isa Almasih memaklumkan satu asas yang secara radikal berbeda. Keadilan tak bisa dikalkulasi. Ia bukan pembalasan yang simetris. Ia justu menyambut yang a-simetris. Jangan kau balas cungkil mata orang yang mencungkil matamu. Dan jika ada yang menampar pipi kananmu, berikan pipi kirimu.

Saya bayangkan, di masa pasca-Hammurabi itu, mereka yang mendengar ajaran itu bingung. Bagi mereka, (dan tak hanya bagi mereka) pesan revolusioner dari bukit itu absurd. Tapi bukannya tak menggugah. Bersama pengalaman, pelan-pelan orang sadar, bahwa Yesus hendak mengingatkan: selalu ada sisi lain — yang tak terduga-duga — dalam diri orang yang kita benci.

Kesadaran akan sisi lain itu datang dari sesuatu yang lebih kuat ketimbang keadilan :“cinta kasih” kepada sesama.

“Cinta kasih” itu punya daya getarnya sendiri.

Dengan itu kita melihat orang lain — seorang lyan — sebagai keanekaragaman yang tak habis-habisnya. Amarah dan dendam, sebagaimana kemesraan dan kerinduan, hanya momen-momen yang bisa datang dan pergi; benci dan cemburu bisa tak utuh. Kita tak bisa berlebihan dalam menilai.

Tapi apa boleh buat: pembunuhan seperti yang dilakukan si peladang dalam cerita di awal tulisan ini tak bisa hilang. Di sepanjang riwayat manusia, di mana saja.

Sejarawan terkenal Jacob Burckhardt pernah mencatat bahwa di masa “pencerahan” Eropa, perempuan Jerman dihukum cambuk dan dikubur hidup-hidup bila ketahuan berzinah

Di masa lain, tempat lain: 1995, di India, Naina Sahni ditembak suaminya dengan revolver ketika si suami melihatnya sedang asyik bicara di telepon dengan seseorang. Naina tewas, jenasahnya dicincang dan dibakar dalam tandoor, oven tanah liat.

Sang suami dihukum seumur hidup dan kejahatannya jadi satu dari ratusan kasus “crime of passion” yang tiap tahun terjadi di India (apalagi di dunia). Orang, umumnya lelaki — tapi kadang-kadang juga perempuan — bertindak brutal seketika, dalam “crime of passion”, ledakan emosi yang tak terkendali karena dilecut rasa cemburu.

“Waspadalah, tuanku, akan rasa cemburu. Ia monster bermata hijau …
O beware, my lord, of jealousy; It is the green-eyed monster ..”

Itu kata-kata Iago, sosok gelap dalam “Othello” Shakespeare, sebuah tragedi yang menyentuh ketika Othello, seorang “Moor” yang jadi panglima pasukan Venesia, membunuh isterinya yang setia karena fitnah. Ketika kemudian mengetahui bahwa Desdemona seorang isteri yang tak selingkuh, Othello bunuh diri. Ia tahu ia salah. “Monster bermata hijau” telah membuatnya buta dan kejam. Cinta mati. (***)

Penulis adalah seorang sastrawan Indonesia. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo.

Berita Terbaru

News

Dugaan Galian C Ilegal Kembali Beroperasi di Bonalumban Tapteng Pemkab Diminta Turun Tangan

13 Agustus 2026 | 22:07 WIB
Daerah

Keturunan Raja Purba Bertemu Joko Widodo di Solo, Dorong Keberlanjutan Pembangunan Infrastruktur di Sumatera

13 Agustus 2026 | 21:51 WIB

Lahan PT Indonakanogumi ,di Sukaraya Karangbahagia, Bekasi ,Kebakaran , Warga Saling Bantu Padamkan Api

13 Agustus 2026 | 17:13 WIB
Daerah

Resmi Dilantik, Pengurus DPD KNPI Pematangsiantar 2026-2029 Siap Bawa Perubahan

13 Agustus 2026 | 16:49 WIB

GPAK Gelar Aksi di KPK, Desak Pemeriksaan Benny Gusman Sinaga Terkait Dugaan Korupsi MBG Kabupaten Simalungun

12 Agustus 2026 | 19:19 WIB
Budaya

Wali Kota Wesly dan Ketua TP PKK Ny Liswati Hadiri CFD Rangkaian Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI

11 Agustus 2026 | 13:22 WIB
Daerah

Siap Majukan PWI Siantar, Agus Siahaan Daftar Calon Ketua

7 Agustus 2026 | 17:01 WIB
Daerah

Siap Majukan PWI Siantar, Agus Siahaan Daftar Calon Ketua

7 Agustus 2026 | 16:38 WIB
Daerah

Pekan Depan, Pengurus KNPI Siantar Dilantik

7 Agustus 2026 | 14:18 WIB

Bangun Kesadaran Digital Sejak Dini, Mahasiswa KKN Kelompok 5 ITS Paluta Edukasi Santri tentang Cyber Bullying dan Keamanan Data Pribadi

6 Agustus 2026 | 23:40 WIB
Daerah

Hadiri Wisuda Santri Ponpes Modern Al-Kautsar, Bupati Simalungun Dorong Lahirnya Generasi Masa Depan Cerdas Secara Intelektual

6 Agustus 2026 | 17:42 WIB
Daerah

Nagori Bandar Siantar Diproyeksikan Menjadi Nagori Percontohan “AKU HATINYA” PKK Tingkat Provinsi Sumut

6 Agustus 2026 | 17:38 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Policy
  • Terms

© 2026 Wahanainfo.com

rotasi barak berita hari ini danau toba sumber berita terkini

No Result
View All Result
  • NEWS
    • PERISTIWA
    • DAERAH
    • REGIONAL
    • NASIONAL
    • DUNIA
  • POLITIK
  • HUKUM
  • BUDAYA
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • RUANG KREASI
  • OPINI

© 2026 Wahanainfo.com

rotasi barak berita hari ini danau toba sumber berita terkini