Wahanainfo | Pematangsiantar,- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pematangsiantar menggelar Pertemuan Koordinasi Lintas Program dan Lintas Sektor Penurunan AKI-AKB, sekaligus Launching Inovasi SIPITA (Komunikasi Pelayanan Ibu Hamil Terintegrasi). Kegiatan dilaksanakan di Aula Bhakti Husada Dinkes Pematangsiantar, Jalan Sutomo, Senin (27/07/2026). Kegiatan tersebut dibuka Kepala Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar Urat Hatoguan Simanjuntak SKM MKes diwakili Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Ari Puji Astuti SKM MKes. Kegiatan tersebut berdasarkan Surat Sekretaris Daerah Kota Pematangsiantar Nomor 007/400.7.14.1/2063/VII-2026 Tanggal 24 Juli 2026.
Ari Puji Astuti dalam sambutannya mengatakan, Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKI-AKB) merupakan salah satu indikator utama dalam mengukur derajat kesehatan serta kualitas taraf hidup suatu daerah. Penurunan AKI dan AKB tidak hanya menjadi bagian dari komitmen nasional melalui transformasi sistem kesehatan, tetapi juga tanggung jawab moral bersama di Kota Pematangsiantar.
“Penyebab kematian ibu dan bayi sangat kompleks dan multifaktor. Oleh karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dibebankan kepada jajaran Dinas Kesehatan. Diperlukan sinergi, kolaborasi, dan komitmen yang kuat dari seluruh lintas program, lintas sektor, organisasi profesi, hingga elemen masyarakat di tingkat akar rumput,” katanya.
Sebagai bentuk komitmen nyata dan langkah akselerasi dalam menjawab tantangan tersebut, lanjut Ari, dengan bangga Dinkes Pematangsiantar meluncurkan Inovasi SIPITA.
“Inovasi ini hadir sebagai terobosan untuk memperkuat sistem pendataan, pemantauan, serta intervensi dini terhadap kesehatan ibu dan bayi di Kota Pematangsiantar agar lebih terintegrasi, cepat, dan tepat sasaran. Melalui pertemuan koordinasi dan peluncuran Inovasi SIPITA ini, saya berharap sinergi lintas sektor semakin solid. Seluruh instansi terkait, dari tingkat kota hingga kecamatan dan kelurahan, dapat mengambil peran aktif sesuai tugas dan fungsinya masing-masing,” tukasnya.
Ari menyampaikan, inovasi dijalankan secara optimal. SIPITA hadir sebagai solusi cerdas untuk menekan AKI dan AKB.
“Kehadiran SIPITA hendaknya benar-benar dimanfaatkan dan dikelola dengan baik oleh seluruh tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan, bukan sekadar seremonial. Mari kita perkuat sistem rujukan dan pemantauan kesehatan ibu hamil, melahirkan, serta bayi baru lahir secara lebih responsif. Dengan semangat kebersamaan dan kerja keras kita semua, saya optimistis target penurunan AKI dan AKB di Kota Pematangsiantar dapat tercapai demi mewujudkan masyarakat yang Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras,” tuturnya.
Selanjutnya, Ari Puji Astuti memberikan pemaparan lebih lanjut terkait kegunaan SIPITA.
Ari menekankan SIPITA hadir sebagai solusi cerdas untuk menekan AKI dan AKB. Inovasi ini mengalami pembaruan strategi yang sangat signifikan: dari yang semula direncanakan berbasis aplikasi seluler (mobile app), kini bertransformasi menjadi sistem edukasi dan komunikasi kelompok terintegrasi.
“Kita melakukan evaluasi mendalam. Jika dipaksakan menggunakan aplikasi, biayanya sangat besar, harus terus-menerus di-update, risiko tidak berkelanjutan, dan kasihan ibu hamil jika harus terus men-download aplikasi baru. Oleh karena itu, SIPITA diubah menjadi sistem komunikasi yang lebih membumi, mengutamakan interaksi langsung, namun tetap terstruktur,” jelasnya di hadapan para peserta.
Melalui inovasi SIPITA yang baru, peran tidak hanya bertumpu pada pengelola program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), melainkan berkolaborasi erat dengan Tim Promosi Kesehatan (Promkes). Nantinya, koordinasi puskesmas akan diperkuat melalui pembentukan grup komunikasi khusus yang aktif memberikan edukasi terjadwal setiap hari Kamis serta melakukan umpan balik secara berkala.
Dengan adanya sosialisasi ini, seluruh puskesmas diharapkan segera menindaklanjuti dengan melaporkan ke pimpinan, membuat SK Pelaksanaan Tim, dan membentuk grup SIPITA tingkat puskesmas demi mewujudkan pemetaan risiko dan rujukan yang lebih cepat dan terintegrasi.
Ia berharap kelurahan dan kecamatan juga mengharuskan para ibu hamil di wilayahnya masing-masing berkoordinasi dengan Dinkes.
“Jadi kami mohon bantuannya kepada bapak-ibu kelurahan, agar di-ayo-ayokan kepada kader untuk responsif kepada sasaran ibu hamil, agar kami Dinkes dapat bergerak ikut untuk memantau melalui SIPITA. Dan khayalan saya, ini seperti Halo Dokter dalam bentuk Sipita, terkhusus untuk pelayanan konsultasi ibu hamil dan anak,” katanya.
Dalam pertemuan tampak hadir Sekretaris DPPKB Mispa Tarigan ST MSi, para perwakilan camat dan lurah se-Kota Pematangsiantar, para pimpinan rumah sakit, kepala puskesmas, mewakili Ketua TP PKK, organisasi profesi (IBI, IDI), dan tokoh masyarakat. (*)

